Namaku Maya. Aku lahir dan besar di Pangkalan Balai, sebuah kota kecil di Banyuasin yang kaya dengan tradisi dan adat-istiadat Melayu. Sebagai perempuan Melayu, aku tumbuh di tengah kebudayaan yang sarat dengan nilai-nilai kesantunan dan kepatuhan. Aku menghormati tradisi itu, tetapi aku juga tahu bahwa perempuan harus memiliki ruang untuk bermimpi, untuk mengejar harapan dan membangun masa depan.
Sejak kecil, aku sering mendengar orang berkata bahwa perempuan sepertiku cukup menjadi pendamping, mengikuti jejak langkah laki-laki. Namun, aku tidak percaya itu. Aku yakin bahwa Tuhan menciptakan perempuan dengan potensi yang sama besarnya. Aku percaya bahwa setiap mimpi yang aku miliki adalah jalan menuju perubahan, bukan hanya untuk diriku, tetapi juga untuk perempuan lain di sekitarku.
Aku menyadari bahwa mimpi tidak akan terwujud tanpa perjuangan. Pendidikan adalah pintu pertama yang aku ketuk untuk membuka jalan menuju cita-cita. Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik di sekolah, meskipun sering kali orang-orang di sekitarku berkata, "Kenapa perempuan repot-repot sekolah tinggi? Pada akhirnya kau akan menikah dan mengurus rumah tangga." Tapi aku tidak pernah menyerah. Bagiku, pendidikan adalah senjata untuk mematahkan batasan-batasan yang tak terlihat.
Sebagai perempuan berjilbab, aku sering dianggap terbatas dalam ruang gerak. Tapi aku memilih untuk menjadikan jilbabku sebagai identitas yang kuat, bukan penghalang. Aku terlibat aktif dalam berbagai kegiatan organisasi yang mendukung pemberdayaan perempuan. Aku menginisiasi program pelatihan keterampilan bagi perempuan muda di daerahku, memberikan mereka harapan dan semangat untuk melangkah lebih jauh. Aku ingin mereka tahu bahwa mimpi mereka juga berharga, sama seperti mimpi laki-laki.
Bagi perempuan Melayu, menjaga tradisi adalah tugas yang mulia. Namun, tradisi tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan hak kita untuk maju. Aku belajar untuk menghormati adat, tetapi juga berani menantangnya ketika adat itu membelenggu. Aku percaya bahwa kita bisa menjadi perempuan yang menghargai akar budaya kita sekaligus memimpin perubahan di era modern.
Visiku adalah membangun komunitas perempuan Melayu yang mandiri, berani bermimpi, dan berdaya untuk mewujudkannya. Aku ingin setiap perempuan muda di Pangkalan Balai melihat bahwa mereka memiliki peran penting dalam membentuk masa depan. Perempuan Melayu bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga pembawa obor kemajuan.
Perjalanan ini tidak mudah. Aku sering menghadapi cemoohan, rintangan, bahkan rasa putus asa. Tapi setiap kali aku merasa lelah, aku mengingat wajah-wajah perempuan muda yang aku temui, yang matanya penuh dengan harapan. Mereka adalah alasanku untuk terus melangkah, untuk terus bermimpi.
Aku, Maya, adalah perempuan Melayu yang tak takut bermimpi. Aku percaya bahwa perubahan dimulai dari satu langkah kecil, dan aku telah memilih untuk mengambil langkah itu. Bersama mimpi-mimpiku, aku ingin mengukir jejak yang bisa diikuti oleh generasi perempuan Melayu berikutnya. Kami bukan hanya pelengkap, kami adalah penentu masa depan.

Posting Komentar